Followers

Digital clock

Tuesday, 15 January 2013

Tak habis-habis Anwar burukkan Mahathir sekeluarga di Indonesia, kempen jadi PM lagi



DATUK Seri Anwar Ibrahim, pemimpin oposisi Malaysia, datang ke Jakarta. Pada Kamis malam pekan lalu, Anwar menyempatkan diri berdiskusi dengan Forum Pemimpin Redaksi, di Hotel Crowne Plaza, Jakarta.

Mantan Timbalan Perdana Menteri ke-7 (1993-1998) itu, berbicara panjang lebar soal kebebasan pers di negerinya. “Kalau soal demokrasi dan kebebasan pers, Indonesia jauh lebih maju dibanding Malaysia,” ujar musuh bebuyutan Dr Mahathir Mohamad, mantan Perdana Menteri Malaysia itu.

Redaktur Senior Inilah.com Grup Bachtiar Abdullah sempat mewawancarai Anwar seputar perekonomian Indonesia dan Malaysia. Berikut petikannya:

Anda masih berkomunikasi dengan Mahathir?

Tidak, walaupun saya sudah memaafkan. Dia masih kuat menyerang saya. Kekuasaan beliau demikian kuat, sehingga keluarganya menjelma menjadi nomor dua terkaya di Malaysia. Kita tahu, anak-anaknya makin menguasai bisnis di Malaysia. Padahal banyak orang mempersepsikan beliau orang bersih. Tapi anak-anaknya menguasai bisnis bernilai RM 10 miliar (Rp 32 triliun). Bahkan perusahaan bir San Miguel asal Filipina di Malaysia dikuasai keluarga Mahathir.

Apa benar bisnis migas, listrik, dan otomotif di Malaysia tidak boleh dipegang oleh etnis di luar Melayu?

Itu bohong. Mahathir memberi kuasa paling besar pada perusahaan Powertek milik Ananda Krishnan, pemilik rumah judi di Genting Higland (Pan Malaysian Pool), yang juga pemilik Astro TV dan selular Maxis. Satu lagi PPLS milik orang China Malaysia. Dari empat besar kepemilikan pembangkit tenaga listrik, tiga di antaranya bukan bumiputra. Semestinya ada pemerataan untuk bumiputra. Tapi yang bumiputra, ya cuma keluarga Mahathir.

Di sektor minyak dan gas bumi?

Anak-anak Mahathir paling banyak mendapat bisnis. Petronas? Semua takut pada anak-anak Mahathir.

Sektor otomotif seperti Proton?

Mitsubhisi mengontrol 30% saham Proton. Khazanah Nasional Berhad (BUMN Malaysia) sudah dominan.

Malaysia Airlines (MAS) kabarnya mau melepas 60% saham Khazanah Nasional Berhad ke Air Asia Malaysia?

Ya, memang mau dilepas ke Air Asia, tapi tanpa ada keterangan apa pun. Kita tak tahu apa-apa. Tapi belakangan Tony Fernandez (CEO Air Asia) mundur karena terus memprotes MAS.

Foreign Direct Investment di Malaysia menurun, tapi sektor pariwisata Malaysia ternyata mengungguli Thailand, Singapura, dan Indonesia. Tanggapan Anda?

Kita berhasil menarik turis ke Malaysia. Singapura tidak pernah dapat bersaing dengan Malaysia. Begitu juga Thailand dan Indonesia. Kita lebih berhasil karena relatif lebih aman dan infrastruktur lebih teratur. Indonesia terjebak kasus bom Bali dan sebagainya. Angka turis yang masuk ke Singapura, jumlahnya tiga per empat angka turis yang masuk ke Malaysia.

Malaysia menurunkan pajak ekspor sawit. Hal itu dianggap merugikan Indonesia. Anda setuju dengan pendapat itu?

Ya, memang ada investasi besar (perusahaan Malaysia) di perkebunan sawit Indonesia. Malaysia sekarang kondisinya parah dan kalah dari Indonesia. Banyak kilang kelapa sawit tutup. Pemerintah Indonesia melarang menjual sawit mentah. Ekspor Malaysia mengecil, Indonesia jauh lebih besar. Tadinya kita anggap Malaysia pintar, nyatanya sekarang kalah dengan Indonesia.

Kalau jadi perdana menteri, program ekonomi apa yang Anda tawarkan?

Sektor industri jasa akan kita naikkan kualitasnya. Seperti pariwisata dan pendidikan. Juga menurunkan harga bahan bakar minyak. Malaysia adalah net-eksportir minyak, sedangkan Indonesia sudah menjadi net-importir. Tapi harga BBM di sini lebih murah. Nah, kita harus murahkan harga BBM di Malaysia. Pajak minyak menghasilkan devisa RM 80 miliar (Rp 256 triliun). Jadi apa salahnya kalau harga BBM diturunkan? Buat apa pemerintah punya dana besar kalau dilarikan ke luar negeri tanpa catatan? Paling tidak, ada RM 190 miliar (Rp 608 triliun) yang tak dicatatkan lari keluar Malaysia. (*)

Artikel ini juga bisa disimak di majalah InilahREVIEW edisi ke-20 Tahun II yang terbit Senin, 14 Januari 2012 serta InilahKoran edisi Senin 14 Januari 2012. [tjs]

No comments:

Post a Comment